Langsung ke konten utama

Postingan

Dongeng Terfavorite

Apa Jadinya Universitas Tanpa Pers Mahasiswa?

Sore itu kami berempat mendiskusikan hal yang serupa. Mencari kunci utama untuk menghantam batu yang menghalangi langkah kami.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu menjadi berbeda diantara mereka. Kartini diantara mereka. Namun itu sama sekali tak membuatku minder atau tak betah. Bagiku sama saja. Disini, diruang sempit yang menjadi tempat menetasnya karya-karya luar biasa yang dapat mengubah dunia.
Salah satu dari kami, sebut saja Aher sang layouter handal tak ada dua. Celetuk memberi pernyataan. "Apa jadinya Univ ini tanpa teknik elektro? Pareum! Poek!" ucapnya dengan suara khas sundanya yang kental.
Senior tak mau kalah. Kakak yang selalu menjadi panutan kami menambahkan, "Apa jadinya univ ini tanpa teknik sipil? Rubuh!" ucapnya penuh kebanggaan.
Begitupula dengan senior satu lagi yang sempat menjabat ketua umum periode tahun sebelumnya. "Apa jadinya univ ini tanpa Matematika? Hancur perhitungan keuangan dan anggaran lembaga!" ucapnya lantang.
K…
Postingan terbaru

Info Kuliner Tasikmalaya: Tutug Oncom (TO) Benhil Rajanya TO Tasikmalaya

Puisi KAMU

Tasikmalaya, 15 September 2016
-FajKus-
Rona hitam mengkabuti waktu Intan meredup tertindih bebatuan Zona kenyamanan bagai sebuah hantaman Kala dirinya meredup nan tetap bercahaya Itulah yang membuatnya indah dideskripsikan
Entah sampai kapan Kabut itu mengurung Adakah harapan lain???
Rupanya tak ada waktu yang percuma Ini adalah garis kehidupan Antara perjalanan dan perjuangan Niscaya tak ada kesia-siaan
Rasa dan asa menyatu Impian terikrar suci Nanti, bila waktu mendekapmu Akan ada kemenangan sejati Lumpuh sudah semua rasa perih Dalam setiap tetesan keringatmu Inilah dirimu dengan cahayamu………
Teruntuk kamu, setiap abjad dari barisan ini Masih ada harapan menyapamu Berlarilah hati-hati dengan hati Tengoklah ke belakang Ada senyuman dan doaku mengiri KAMU.

PUISI Menunda atau Tertunda

-FajKus-

Dia terlalu lemah untuk melepaskan Tetap bertahan meski nampak semu Sebagai pajangan hati kala sepi Bahkan penghibur kala luka menghampiri
Dai terlalu takut untuk menjauh Takut kehilangan harapan indah Tak mau semuanya lenyap tak berbekas Tersapu tak berbangkai tak membekas
Dia terlalu cinta untuk menghilang Menatap meski tak lagi ditatap dalam kenang Teguh bertahan merindu titik temu Menyemogakan kepastian semu
Apakah cinta bisa dijadikan alasan? Alasan untuk tetap bertahan dan berjuang Dia masih tetap menunggu rembulan menjulang Berulang kali menunda atau tertunda untuk pulang

Hari Kemenangan untuk Para Perantara Tuhan

Ini Adalah Hari Kemenangan Dua bulan sebelum hari ini, aku merasakan banyak hal. Hatiku bergetar hebat dilanda berbagai hal. Nadiku berdenyut tak beraturan. Tanda tanya besar dalam kepalaku semakin menjadi-jadi. Tak ada yang menjawab. Sehingga aku harus mencaritahu jawaban itu sendiri. Genap satu tahun perlahan kepingan pertanyaanku terungkap. Berbagai perantara Tuhan datang untuk memberikan jawaban baik tersirat atau tersurat. Satu tahun yang lalu, aku merasa terpuruk. Terkhianati oleh segala hal yang selama ini aku percaya. Aku asing saat itu. Tak mengenal diriku sendiri. Mengeluh, menangis, pendendam dan menjadi pembenci. Hanya kebencian yang memenuhi kepingan hatiku. Aku hancur, remuk dan tak berbentuk. Perlahan aku benci segala kehidupanku. Seperti pembenci ulang yang tak ingin diusik. Aku benci kota kelahiranku. Berlama-lama disini membuat aku semakin sesak dan tak ada ruang. Benci aku dengan kota Tahu ini. Semua seperti menyudutkanku saat itu. Belum lagi “label” yang terus…

Catatan Pers Mahasiswa Peduli

Terkadang kita lupa menapak di bumi. Terlalu angkuh. Menutup mata dan telinga. Enggan peka dan melirik keadaan lingkungan sekitar. Kaum intelektual, memiliki peranan penting dalam pengontrol sosial. Mahasiswa turun ke jalanan mencari dana untuk menggelar kegiatan bakti sosial. Bulan suci Ramadhan menjadi moment yang tepat untuk memberi senyuman kepada sesama. Berbagi kebahagiaan dengan segala bentuk apapun. Dan inilah cara kami berbagi kepada sesama.
Pers Mahasiswa, bukan hanya dituntut peka terhadap lingkungan Kampus saja. Menerobos segala informasi yang perlu disebarkan kepada publik. Tetapi Pers perlu turun tangan, berperan aktif merangkul dan menggapai tangan-tangan lemah masyarakat. Salah satu pilar demokrasi ini perlu terjun ke lapangan, untuk melihat secara langsung realita yang ada. Inilah Negeri mu yang kau banggakan. Inilah Negeri mu yang kau perjuangkan. Inilah dibalik “Kampus mu” yang selalu kau renovasi lewat tulisan.
Yayasan Mentari Hati yang terletak di Cilembang K…

Puisi 'KATANYA'

'KATANYA'Malam ini bumi mengamuk
Menyaksikan tunas bangsa terpuruk
Mengikis harapan tanpa kepastian
Merasuk sukma penuh dustaVirus menghantui setiap sudut
Udara dicemari kedustaan
Mereka berteriak dalam diam
Mulutnya disumpal penuh ketakutanHipokrit tak berbendung
Mengarungi semangkuk dusta
Diteguk tak minta ampun
Membisu sel-sel tak berilmuTopeng dan kedok
Permanen tak mau mencair
Picik bersetubuh erat
Racun-racun bagaikan coklat'Katanya' agar berwarna
'Katanya agar banyak kepeduliaan
'Katanya' agar banyak perbaikan
'Katanya oh katanya....

Tasikmalaya, 17 Juni 2016
20;08
Asjap
Penulis:
FajKus
Redaktur Pers Mahasiswa Universitas Siliwangi
Dipost pertama kali di akun offical line Mahasiswa Indonesia

Melihat Kolong Langit Kaum Intelektual

Malam semakin larut. Lampu jalanan menerangi setiap sudut kota. Aku kembali menatap kolong langit. Menikmati setiap dentuman yang berkecamuk di hati. Langit tetap indah walau tak berbicara. Kesetiaan langit yang menjadikannya berarti. Entah sampai kapan kebiasaan buruk ini berakhir. Kedua mataku enggan terpejam walau keadaan memaksaku terlelap. Tubuhku memiliki hak untuk beristirahat. Namun pikiran ini selalu saja tak ingin tertidur. Problematika yang perlu segera aku tangani. Mengingat TUPOKSI sang kaum intelektual tak semudah membalikan telapak tangan. Semuanya nampak jelas di hadapan kelopak mata. Segala aspek kehidupan bumi pertiwi semakin semrawut. Belum lagi para bedebah yang tak kunjung surut. Menggerogoti apa pun yang dapat dia salah gunakan. Inikah mental negeriku? Serendah inikah citra dan martabat tanah airku? Arrgggh! Percuma seminggu terakhir ini konflik yang ada dipikiran dan hatiku tak kunjung menyurut. Semakin bergejolak dan tak hentinya berguman. Melihat keadaan kau…