Langsung ke konten utama

Postingan

Dongeng Terfavorite

Apa Jadinya Universitas Tanpa Pers Mahasiswa?

Sore itu kami berempat mendiskusikan hal yang serupa. Mencari kunci utama untuk menghantam batu yang menghalangi langkah kami.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu menjadi berbeda diantara mereka. Kartini diantara mereka. Namun itu sama sekali tak membuatku minder atau tak betah. Bagiku sama saja. Disini, diruang sempit yang menjadi tempat menetasnya karya-karya luar biasa yang dapat mengubah dunia.
Salah satu dari kami, sebut saja Aher sang layouter handal tak ada dua. Celetuk memberi pernyataan. "Apa jadinya Univ ini tanpa teknik elektro? Pareum! Poek!" ucapnya dengan suara khas sundanya yang kental.
Senior tak mau kalah. Kakak yang selalu menjadi panutan kami menambahkan, "Apa jadinya univ ini tanpa teknik sipil? Rubuh!" ucapnya penuh kebanggaan.
Begitupula dengan senior satu lagi yang sempat menjabat ketua umum periode tahun sebelumnya. "Apa jadinya univ ini tanpa Matematika? Hancur perhitungan keuangan dan anggaran lembaga!" ucapnya lantang.
K…
Postingan terbaru

Sekarat

Aku kembali tak berbentuk
Saat keadaan meminta kupeluk
Aku kembali terpuruk
Saat kebahagiaan enggan masuk

Siang seperti malam
Malam seperti siang
Hanya gelap yang menyelimuti
Hanya sepi teman sejati

Atas album lalu yang selalu dibuka,
tanpa menghiraukan aku di depan mata

Atas pandangan yang selalu mengadah ke langit,
tanpa mau menapaki bumi

Atas segala egoisitas,
tanpa mau memahami perasaan orang lain

Atas segala intonasi keras,
tanpa peduli ada sayatan pada selaput hati orang lain


Aku dan kamu seolah selamat
Padahal aku sedang sekarat

Aku (tidak) baik-baik saja
Tapi aku harus baik-baik saja.

Tasikmalaya, 20 September 2018
-Gadis Pendosa Ulung

Duka naon

Selamat malam minggu yang malah menjadi bersedih. Aku masih termangu di balkon kostan, Enggan untuk masuk untuk sekadar memanjakan tubuh di kasur. Atau bermalas-malasan karena besok hari libur. Entahlah, untuk berhenti memalingkan mata dari langit yang menghitam saja rasanya begitu berat. Aku hanya akan menulis apa yang ingin aku tulis. Ini buka puisi, cerpen, novel, berita ataupun curahan hati. aku hanya ingin menulis sampai semua rasa sedih ini menghilang. Mungkin memang sedikit konyol terdengarnya. Entahlah bagikut hanya dengan tulisan aku bisa berdialog. Lihatlah, tak ada sedetikpun aku berhenti menulis saat ini. Jemariku terus menggerakan ke tombol keyoboard leptop yang baru di servis ini hha.

Mungkin jika tulisan ini dibaca akan jadi tidak nyambung dan tidak menarik. Abaikan saja, aku menulis bukan untuk kamu atau siapapun yang membaca tulisan ini. Aku menulis untuk dirikku sendiri, mengeluarkan segala asa yang mengendap di hati. Tak akan ada kata-kata puitis yang indah disini. …

Tanpa Judul Part III

Aku teringat akan buku "Allah Maha Pecemburu." Buku ber-cover merah yang kau beri di awal kami menjalin hubungan.  Pintamu,  aku harus membacanya.  Aku sudah membacanya sampai halaman terakhir dan titik terakhir.  Buku merah itu tersimpan di rak buku diantara buku-buku lainnya.Tuhan saja cemburu,  apalagi manusia biasa.  Ya tentu.  Berbicara tentang cemburu,  terkadang memang berdampak negatif jika dibiarkan emosi mengontrol semua indra yang ada di tubuh manusia.  Namun,  cemburu bukanlah hal yang lumrah?  Meski katanya dipandang tidak wajar dan tidak mendasar.  Namun,  tetap dikatakan cemburukan? Perdebatan dalam hubungan adalah hal yang biasa.  Katanya,  pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah bumbu pemanisnya.  Karena tanpa ada tikungan atau tanjakan,  hubungan akan terasa hambar dan berakhir kejenuhan.  Itu sih katanya. Tapi menurutku semuanya kembali pada cara manusia memandang pertengkaran itu.  Tapi yang perlu digaris bawahi adalah pertengkaran yang berkali-kali kar…

Tanpa Judul Part II

"Aku sayang kamu, tapi aku tak ingin bersedih. Entah mungkin aku yang terlalu perasa, atau memang kamu yang membuat aku sedih."
Samar-samar suaranya terdengar mendayu dihempas angin malam. Hanya ada mereka berdua di kolong langit malam yang indah itu. Bulan yang teramat suci, menyadarkan ia yang sedang bersedih. Entah bermulai darimana, namun yang ia rasakan tak pernah ada kedamaian pada dirinya. Selalu saja sesak yang dirasa. Meski senyum lebar menghiasi bibirnya.
Kini ia tersadar bahwa semua ini memang hanya titipan Tuhan. Orang-orang yang ia miliki dan cintai, harta, tahta, ilmu dan kebahagiaan adalah titipan-Nya. Ia hanya perlu untuk menjaga dan merawatnya. Agar tidak lepas. Namun memang tanpa diundang, yang datang akan datang, dan yang hilang akan tetap menghilang. Tak ada yang mampu memaksakannya.
Tak ada yang tahu kedepannya seperti apa. Entah itu satu tahun ke depan, bulan depan, besok, jam ataupun sedetik kemudian. Ia hanya mampu tersenyum pada langit. Pada semesta…

Review Film “212 The Power of Love”

Info Kuliner Tasikmalaya: Tutug Oncom (TO) Benhil Rajanya TO Tasikmalaya

Puisi KAMU

Tasikmalaya, 15 September 2016
-FajKus-
Rona hitam mengkabuti waktu Intan meredup tertindih bebatuan Zona kenyamanan bagai sebuah hantaman Kala dirinya meredup nan tetap bercahaya Itulah yang membuatnya indah dideskripsikan
Entah sampai kapan Kabut itu mengurung Adakah harapan lain???
Rupanya tak ada waktu yang percuma Ini adalah garis kehidupan Antara perjalanan dan perjuangan Niscaya tak ada kesia-siaan
Rasa dan asa menyatu Impian terikrar suci Nanti, bila waktu mendekapmu Akan ada kemenangan sejati Lumpuh sudah semua rasa perih Dalam setiap tetesan keringatmu Inilah dirimu dengan cahayamu………
Teruntuk kamu, setiap abjad dari barisan ini Masih ada harapan menyapamu Berlarilah hati-hati dengan hati Tengoklah ke belakang Ada senyuman dan doaku mengiri KAMU.